Hari Sebelumnya
Maret 10
Baca Ulangan 28
Dalam berita terakhir Musa yang sangat menggugah hati itu, ia menjelaskan secara rinci tentang berkat-berkat yang akan datang apabila umat Israel tetap memelihara perjanjian mereka dengan Tuhan Allah mereka, dan melakukan dengan setia segala perintahNya .... Tuhan akan membuka bagimu perbendaharaanNya yang melimpah ....... dan memberkati segala pekerjaanmu .... Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala (dari banyak bangsa) (Ulangan 28:1,12-13).
Mereka boleh memilih untuk hidup sesuai tuntunan FirmanNya dan menikmati berkat-berkat Tuhan atau menolak FirmanNya dan menanggung akibat-akibat dahsyat seperti kutuk, huru hara, penghajaran ke antaramu dalam segala usaha yang kaukerjakan ... (Selain itu) barah .... borok .... kedal dan kudis .... dan perjalananmu tidak akan beruntung (28:20-22,29).
Dalam fasal ini saja, ada 14 ayat yang mengungkapkan janji berkat-berkat yang indah bagi mereka yang setia kepada Firman Allah. Namun, hampir empat kali lebih banyak ayat-ayat yang memperingatkan tentang kutuk yang akan menimpa mereka yang tidak taat.
Akibat-akibat dari ketidaktaatan -- seperti penderitaan, dukacita, dan kehinaan -- tidak akan ada henti-hentinya. Kesimpulan yang jelas dari Firman Allah adalah bahwa setiap perbuatan dosa itu pasti ada akibatnya. Namun asumsi ini juga dapat disalahpahami, seperti terlihat nyata dalam kasus murid-murid Yesus ketika mereka melihat keadaan seorang yang buta. Mereka bertanya: Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta? Yesus menjawab: Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yohanes 9:3). Walaupun kebutaan itu tampaknya seperti suatu kutuk, namun hal itu ternyata telah mendatangkan berkat, karena membuat orang itu datang kepada Sang Juruselamatnya.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua bencana yang menimpa diakibatkan oleh perbuatan dosa seseorang, dan demikian pula kekayaan atau kesehatan tidak selamanya pertanda berkat atau restu Allah atas orang itu. Coba pikirkan tentang orang muda yang kaya, yang memilih kekayaannya lalu membelakangi Yesus. Kemenangan atas keangkuhan dan sikap mementingkan diri ini dapat kita alami, sebagaimana Allah telah memberikan Tanah Perjanjian kepada umat Israel. Iman kepada janji-janji Allah telah menggerakkan Yosua sehingga ia mendapat kemampuan extra dari Tuhan untuk menaklukkan negeri itu. Dan oleh anugrah Allah, ia berhasil melaksanakannya. Demikian pula, kita pun harus rela terjun dalam peperangan atau pergumulan seperti yang dilakukan oleh Yosua, yang sedemikian sempurna melukiskan tentang bagaimana menjadi lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita (Roma 8:37) dan menikmati damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal (Filipi 4:7). Tidak ada sesuatu yang diabaikannya dari segala yang diperintahkan Tuhan (Yosua 11:15). Sebaliknya, orang-orang Kristen yang berpikiran duniawi masih saja terus bersikap santai sambil
menantikan Tuhan melepaskan mereka dari cara hidup mereka yang jahat. Namun seperti yang Ia lakukan terhadap Yosua, Allah mengharapkan kita pun untuk bertindak menurut kadar iman kita dan menawan segala pikiran serta menaklukkannya kepada Kristus ...... mempersembahkan tubuhmu sebagai kurban yang hidup (II Korintus 10:5; Roma 12:1).
Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? (6:15-16).
Kemenangan atas raksasa-raksasa Kanaan kita -- yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16) -- hanya dapat tercapai, bukan karena kemampuan kita atau karena ketiadaan musuh kita, melainkan melalui penyerahan kita kepada kehendak Allah. Tak ada godaan untuk berbuat dosa yang terlampau besar untuk dikalahkan. Syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Korintus 15:57). Kuncinya adalah bekerja sama dengan Kristus, yang diam di dalam kita. Seperti yang dinyatakan oleh Rasul Paulus: Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:11-13).
Kristus Dinyatakan:
Sebagai Oknum yang menjadi Sumber segala berkat kita (Ulangan 28:1-2).